Pages

17 September 2013

A Little Thing Called 'Love'

A Little Thing Called Love memang judul salah satu film yang pernah aku tonton. Dari judulnya aja, udah berasa makna nya yang 'dalem'.
Tapi, sekarang aku nggak lagi pengen ngebahas tentang film Thailand ini (and, yeah, aku akuin, banyak film-film romantis menyentuh hati dari Thailand yang nggak kalah sama film korea).

Yang buat aku penasaran dan kagum, justru iklan-iklan nya (kebanyakan iklan asuransi sih). hehehe.
Setelah banyak yang nge-share link di sosmed, mulailah aku iseng-iseng liat-liat. Dan terkagum-kagum sama iklan yang lucu, unik, bahkan sedih. Serunya, iklan-iklan ini kaya bisa menceritakan hal-hal yg kecil dengan cerita yang 'wah'. Idenya suka nggak kepikiran, atau sebenernya kepikiran, tapi nggak meninggalkan kesan mendalam. Bahkan terkadang cuma sebatas iklan sampo, asuransi, atau bank.

Liat beberapa iklannya, terutama yang sedih-sedih, seperti nyeritain banyak hal. Yak, hal kecil yang suka nggak kita sadari. 'Love'. Cinta orang tua ke anak, cinta kepada sesama.

And then, mulai lah aku berburu iklan-iklan atau bisa dibilang short movie kali yah, yang menurut aku maknanya cukup dalem.

1. Dad, wherever you go...




2. Silent Love




3. Dad's love




4. Value of Life




5. Giving





6. My first and my last





7. Que sera sera




When I was just a little girl
I asked my mother
What will I be
Will I be pretty
Will I be rich
Here's what she said to me

Que sera, sera
Whatever will be, will be
The future's not ours to see
Que sera, sera
What will be, will be

When I grew up and fell in love
I asked my sweetheart
What lies ahead
Will we have rainbows
Day after day
Here's what my sweetheart said

Que sera, sera
Whatever will be, will be
The future's not ours to see
Que sera, sera
What will be, will be

Now I have Children of my own
They ask their mother
What will I be
Will I be handsome
Will I be rich
I tell them tenderly

Que sera, sera
Whatever will be, will be
The future's not ours to see
Que sera, sera
What will be, will be
Que Sera, Sera


dan yang terakhir,,,
27 August 2013

Jangan Ngeluh

Ceritanya ada seorang lelaki.

Di pagi hari, ia mengeluhkan kopinya yang pahit, ketika istrinya bilang harga gula naik, ia menyalahkan pemerintah yang nggak bisa mengontrol harga gula. Ketika melihat berita yang mengatakan kenaikan harga disebabkan melemahnya mata uang terhadap mata uang negara lain, ia menyalahkan negara lain yang dianggap terlalu berkuasa dan egois.

Dalam perjalanan ke kantor, udara di bus panas, ia mengeluhkan AC. Ketika dimarahi atasan karena laporan nya tidak beres, ia mengeluhkan teman sekantornya yang dianggap tidak memberi bahan laporan yang benar. Ketika ia lapar disiang hari dan tidak bisa membeli makanan ke luar, ia mengeluhkan istrinya yang tidak membawakan makan siang.

Pokoknya sepanjang hari ia mengeluh, mengeluh, mengeluh. Baginya semua hal negatif. Dan semua hal negatif dalam hidupnya terjadi karena kesalahan orang lain.

Upaya pemerintah mentertibkan lalu lintas, ia kritik. Upaya pemerintah memberi bantuan ke pengungsi, ia kritik. Bahkan berita tentang pengungsi yang meminta bantuan ke pemerintah pun ia kritik. Nggak ada yang benar dimata dia. Kecuali dia sendiri. Baginya semua hal itu negatif, walaupun sebenarnya ada hal positif nya. Tapi seolah-olah ia menutup mata akan hal yang positif itu.

Siang ini, ia mengeluh tentang harga tiket kereta yang mahal. Mencaci, ngomel-ngomel di sosial media tentang kebijakan yang aneh lah, pembodohan oleh petugas yang bilang harga naik untuk uang jaminan lah. Meminta petugas dicopot, dll.

Lalu ada seorang temannya yang komentar : 'beli tiket mahal, tapi setelah itu tiket bisa ditukar lagi dengan uang sebesar uang jaminan itu. jadi tidak ada yang dirugikan, tidak ada kenaikan sebenarnya. Toh jaminan juga diperlukan karena orang-orang suka semaunya dan susah diatur kalau mennyangkut angkutan masal. Ngerusak, dll. Jangan ngeluh mulu hidup lu bro'!

Jadi, kita mau jadi orang yang seperti apa? yang negative thinking terus, atau yang berusaha positive thinking? Think smart bro :D

May I Ask?

Dulu waktu saya masih SMP, di sebuah angkot, ada ibu-ibu yang duduk di depan saya. Posisi saya di belakang abang supir angkot mikrolet.
Ibu- ibu : Neng kalau daerah A itu dimana ya?
awalnya saya males ngejawab, bukan apa-apa, karena saya sendiri nggak begitu tau letak daerah A itu dimana. Maklum, saya mengidap penyakit susah menghapal jalanan, tempat, atau nama orang yang baru dikenal.
Saya : Kayanya sebentar lagi Bu
Ibu-ibu : Oooh, iyah iyah

Nggak berapa lama kemudian, si Ibu bertanya lagi
Ibu-ibu : Neng, sebentar lagi ya?
Saya : Iya bu kayanya.

Terdiam sebentar dan kemudian si Ibu nanya lagi, mungkin karena nggak puas dengan jawaban saya. Saya nya nggak bisa ngasih tau letak yang tepat dimananya si Ibu harus turun (daerah A).

Setelah si Ibu nanya untuk yang ketiga kali, tanpa menjawab pertanyaan si Ibu, saya langsung bilang ke supir angkotnya : 'bang, nanti di daerah A, kiri.' (maksudnya menepi)

Maksud saya supaya ibunya betul-betul bisa turun di daerah A. Dapet keterangan yang jelas tentang dimana daerah A itu, dan pastinya supaya abang angkot tau ada yang mau turun di daerah A, jadi si Ibu nggak bakal nyasar. Daripada saya kasih info yang nggak jelas.

Entah kenapa, tersinggung atau bagaimana dengan sikap saya, si Ibu langsung bilang dengan nada sedikit ketus : 'ya maaf sih Neng, saya bukan orang sini. Nggak tau daerah sini. Makanya banyak nanya-nanya.'

Ups, langsung ada perasaan nggak enak dihati saya. Maksud saya supaya nggak menyesatkan orang lain dengan info yang saya nggak tau pastinya, tapi ternyata cara saya malah menyinggung orang lain.

Sejak itu saya berjanji dalam hati, kalau ada orang atau teman yang bertanya, sebisa mungkin saya cari tau dulu jawabannya. Paling tidak saya punya info. Nggak menolak menjawab sama sekali. Maksudnya supaya nggak mengecewakan. Kalaupun saya ragu dengan jawaban saya, saya akan bilang terus terang supaya orang atau teman saya itu juga nyari info lain ke sumber lain yang bisa menguatkan atau membantah info saya. Tapi paling tidak, saya menjawab.

Contohnya hari ini, ada seorang teman yang bertanya angkutan ke jakarta. Walaupun saya orang jakarta, terus terang saya nggak apal sama sekali jalanan disana. Tapi saya berusaha mencari info di website, maps, tanya ke teman lain, dll. Intinya saya berusaha memberi masukan. Saya cari di maps, dimana letak daerah tujuan teman saya itu, lalu saya cari trayek bus-bus yang kira lewat situ, atau turun nya dimana supaya nggak kejauhan menuju daerah sana. Saya berusaha menberi info yang lengkap (walaupun nggak akurat). Makanya saya juga bilang ke temen saya itu untuk nanya lagi ke petugas terminal untuk memastikan trayek nya sebelum naek angkutan tersebut.


Dan teman yang bertanya itupun menghargai masukan saya. Di dalam hati ada perasaan senang juga. 
Bandingkan dengan misalnya, saya bertanya ke orang lain, dan orang lain itu cuma menjawab : 'cari sendiri'.
atau si orang memberi link, bahan , atau apapun yang harus saya cari tau sendiri. Saya lagi bingung, dikasih jawaban yang malah tambah bingung. hehehe.

Sebenernya hampir sama dengan kasus kuesioner. Pas saya mengerjakan skripsi dulu, saya perlu menyebar kuesioner sampai ke 200 orang. Coba bayangkan rasanya ketika saya harus berdiri di depan pintu, membagikan, menjelaskan, dan meminta satu per satu ke orang-orang untuk mengisi kuesioner saya. Tapi ketika acara sudah selesai dan saya masuk ruangan untuk mengumpulkan kuesioner saya, yang saya temukan adalah kertas-kertas kuesioner saya bertebaran di lantai begitu saja, ada yang hanya dilipat, dibuat kipas-kipasan, atau tak berbentuk. Dan kosong. Tidak terisi.


Pernah baca kata-kata salah satu motivator terkenal. Ada yang bertanya ke Beliau dan dijawab : 'sudah banyak, cari dulu '. Intinya Beliau bilang kalau jangan suka banyak nanya sebelum cari info sendiri. Kalau sudah ada infonya entah di web, dll, kenapa harus bertanya lagi?. Kenapa nggak nyari dulu jawabannya?.

Oke, saya setuju nggak setuju dengan pernyataan ini. Untuk masalah mencari info sebelum bertanya, saya maklum. Saya juga nggak suka dengan orang yang banyak nanya, padahal menurut saya jawabannya mudah atau bisa dicari sendiri. Buat apa ada goog** dll?. Mungkin merasa terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan ngga penting itu. Usaha sendiri dulu sebelum nyerah dan minta tolong orang lain. Oke, maksudnya bagus.

Tapi coba bayangkan, kalau semua dianggap bisa dicari, buat apa ada dosen? bayangkan kalau semua dosen ketika ditanya bilang : 'cari sendiri, semua ada dibuku'. Padahal kita bertanya karena nggak ngerti maksud di buku itu apa. bayangkan ketika kita tanya tentang cara menuju daerah A ke temen, dan temen kita cuma kasih link yang isinya trayek angkutan. Padahal boro-boro kita ngerti misalnya terminal A itu dimana, trus A itu lokasinya sebelum atau sesudah si angkot turunin penumpang di terminal B. Atau, masa kita mau bilang ke adek kita yang tanya tentang rumus segi tiga untuk nyari sendiri di internet?.

Saya setuju dengan 'sebelum tanya, usaha dulu sendiri dong'. Tapi saya juga suka dengan 'kalau ditanya, usaha dulu untuk menjawab, jangan malah nyuruh nyari sendiri. Kasian orang yang nanya'
Misalnya, temen kita nanya kelurahan dimana, karena kita juga nggak yakin, paling nggak kita ngasih saran untuk tanya ke Pak RT yang rumahnya di blok sebelah. Anterin kalau memang dia juga nggak tau rumah pak RT. Jangan cuma dibilang : 'tanya pak RT aja', trus ngebiarin dia kebingungan nyari-nyari rumah pak RT sendirian. Orang yang bertanya pun pasti akan berterima kasih dengan usaha kita memberi saran dan masukan.


Apakah saat ini orang-orang sudah sebegitu 'sibuk' dengan urusan masing-masing, sehingga untuk menjawab pertanyaan pun keberatan? atau merasa super dan terancam jika harus berbagi pengetahuan ke orang lain? Entahlah. 





26 July 2013

Yang Muda Nggak Dipercaya

Alhamdulillah, finally, resmi sudah menjadi salah satu pengangguran di Indonesia. Setelah masa kuliah tepat 4 tahun, akhirnya dapet juga gelar S.T itu.

Dulu, pas lulus SMA, pertanyaan yang sering didenger adalah "mau kuliah dimana?", pas udah kuliah ditanyain "kapan lulus?", setelah lulus kuliah, pertanyaannya ganti jadi "udah kerja belom?, kerja dimana?", dan ntar kalau udah kerja, jadi "kapan nikah?".

Sebagai freshgrad, mungkin sering banget dikasih pertanyaan-pertanyaan "mau kerja dimana?". Dan jujur aja sebagai freshgrad, aku juga ngerasa was-was ketika pertama kali harus masuk ke dunia baru, iya, dunia kerja.

Trus, apa hubungannya freshgrad sama judul tulisan ini?
Jadi begini ceritanya, inget sebuah iklan (rokok kalo ga salah), yang ceritanya tentang anak muda yang kalau ngomong selalu dipandang sebelah mata.

Mungkin banyak pandangan tentang anak muda yang 'belum bisa apa-apa', atau 'nggak ngerti apa-apa', 'nggak ada pengalaman'. Orang-orang masih banyak yang memandang sebelah mata, bahkan bisa jadi meremehkan pendapat anak muda.

Aku sendiri pernah punya pengalaman, ketika terlibat dalam sebuah proyek yang mayoritas bapak-bapak, aku pernah ditanya "IPK nya berapa?", "itu IPK tinggi-tinggi, asli atau palsu tuh?", "pernah diajar sama dosen A?, jangan-jangan nilai A nya berlimpah gara-gara dosen A", "SMA nya dulu dimana?", "mmmm, SMA nya nggak terkenal ya"

Sebagai 'anak bawang', waktu itu aku mikirnya ya namanya juga bapak-bapak, dan pendidikan beliau beliau juga udah S2, aku mungkin belum ada apa-apanya dibanding beliau beliau itu.

Tapi kalau dipikir mendalam, walaupun nggak selalu ya, tergantung lingkungan kerja dan pribadi masing-masing juga. Memang nggak jarang yang namanya anak-anak muda itu 'kurang didengar' atau 'kurang dipercaya'.


11 June 2013

Nostalgia Soundtrack Drama Korea - Jepang

Lagi seneng nyari-nyari musik instrumental. Malah nostalgia lagu-lagu drama Korea dan Jepang. Oiya, video-video dibawah ini cuma musik aja, ngga ada video clip nya.. Abis denger lagu-lagu ini, jadi pengin bisa main piano ^^

1. Endless Love


2. 1 Litre of Tears






3. Ienakiko (Rindu-Rindu Aizawa) ---> Film drama Jepang pas zaman masih kecil :D


08 June 2013

Just Give Me a Reason

Setelah lagu Grenade dan Impossible yang kembali sering terdengar di radio setelah dinyanyiin artis-artis X Factor Indonesia, sekarang giliran lagu nya Pink - Just Give Me a Reason yang sempet dinyanyiin Novita dan Alex gantian diputer di radio-radio :)


12 May 2013

Buat Mama, dari Aku, si mahasiswa tingkat akhir

Ma, gimana kabar sekeluarga di rumah, baik-baik kah?
Nggak terasa hampir 4 tahun aku merantau. Jauh dari rumah, Jauh dari mama.
Inget dulu, saat masih jadi mahasiswa baru. Betapa sulitnya beradaptasi di awal. 
Ngga ada masakan mama waktu pulang kuliah, nggak ada mama yang menyambut saat balik ke kosan.
Ngga ada mama yang tersenyum dan menanyakan kegiatan aku hari ini.

Tahun-tahun kedua, aku mulai bisa menikmati kuliah. Udah punya temen, udah terbiasa mengurus segala sesuatu sendiri. Mulai menikmati suka duka tugas-tugas kuliah. Menikmati masa-masa paling nyaman. Ditengah-tengah. Iya ma, seperti kelas 2 SMA dulu. Masa-masa paling nyaman. Ditengah-tengah. Udah bisa beradaptasi, nggak seperti anak baru, tapi juga belum pusing mikirin ujian nasional, dll.

Ma, sekarang aku udah di tahun terakhir aku kuliah. Tingkat 4. Usia aku juga udah kepala 2. Udah bukan anak 17 tahun lagi yang apa-apa selalu minta ditemenin. Sekarang aku udah besar. 
Tapi nggak tau kenapa ma, semakin kesini, aku ngerasa semakin berat. Udah banyak pikiran yang ada di otakku. Dan aku ngerasa nggak punya cukup kekuatan buat ngehadapin itu.

Sekarang aku mahasiswa tingkat akhir Ma, sedang sibuk dengan Tugas Akhir. Maaf kalau aku jadi jarang hubungin mama dirumah.
Aku suka ngerasa berat nyeleseiin ini Ma, kadang malas, kadang ngerasa stuck, down, dan malas buat ngelanjutin. Kadang aku lebih suka nyari pelarian dan menunda-nunda. Aku lebih suka jalan-jalan atau ngelakuin kegiatan lain daripada ngerjain Tugas Akhir yang bikin kepala aku pusing. Dengan jalan-jalan aku bisa having fun, ngelupain Tugas Akhir ini.

Tapi hari ini tiba-tiba kebayang muka mama. Mama yang udah bersusah payah supaya aku bisa kuliah sampai sekarang. Mama yang selalu berdoa buat aku walaupun aku jauh disini. Mama yang selalu nyemangatin aku.

Keinginan-keinginan aku mungkin banyak, aku mau lari dari Tugas Akhir ini dalam waktu yang nggak bisa aku tentuin. Aku mau ini dulu, aku mau itu dulu. Aku selalu menunda-nunda ini karena ngerasa ini susah buat aku.

Tapi aku lalu sadar. Mimpi-mimpi mama lebih penting buat aku. Aku tau mama berkeinginan melihat anaknya ini diwisuda dan segera bisa mendapat pekerjaan yang layak. Aku tau mama bermimpi anaknya yang mulai dewasa ini menyelesaikan kuliahnya dan benar-benar mendapat gelar. Aku tau mimpi-mimpi mama itu. Tak peduli  berapa rupiah dikeluarkan, bagi mama, melihat aku diwisuda adalah hal yang membanggakan. Tak peduli predikat mahasiswa terbaik, cumlaude, atau apapun.

 Dan buat aku sekarang, mimpi mama itu lebih penting dibanding keinginan-keinginan sesaat aku. Buat aku, yang terpenting saat ini adalah mewujudkan mimpi-mimpi mama, dan Insya Allah, segera mengumpulkan uang supaya bisa membawa mama dan keluarga ke tanah suci. Buat aku, ngelihat mama tersenyum ketika aku memakai toga adalah pelepas semua lelah mengerjakan ini. 


Aku tau ma, masih banyak orang yang bahkan ngga punya biaya untuk kuliah. Karena itu, aku nggak mau ngecewain mama. Aku akan berusaha. Mimpi-mimpi mama akan jadi penerang ketika aku ngerasa sedang jatuh. Mimpi-mimpi mama akan jadi penguat ketika aku mulai ngerasa lemah. Dan mimipi-mimpi mama yang akan selalu jadi penyemangat ketika aku merasa malas.